Sabtu, 16 Oktober 2010

JUM'AT ROMANTIS


I don’t want to go another day
So I’m telling you exactly what is on my mind
Seems like everybody is breaking up
Throwing their love away
I know I got a good thing right here
That’s why I say..

Di satu hari, dimana hari besar bagi agamanya.. Ia duduk bersanding dengan seorang lelaki dalam sebuah bus yang mengantar ke kotanya. Lelaki yang telah lama hadir dalam hidupnya, mengisi hari-harinya dengan gulali-gulali manis . Lelaki yang selama ini selalu siap menyiapkan telinga untuk segala keluh kesahnya. Satu lelaki dari masa lampau yang sempat terkubur bersama kenangan-kenangan masa remajanya.

Dengan senyum malu-malu ia berbagi segala cerita tentang kekonyolannya, bahagianya, kekhawatirannya, dan bahkan kisah sedihnya. Tak sungkan ia hujani lelaki itu dengan cubitan dan pukulan manjanya. Ia temukan suntikan semangat saat menatap wajah lelaki itu. wajah yang selalu memancarkan harapan dan mimpi untuknya.

Sesekali ia terdiam, matanya menerawang jauh keluar jendela. Ada kebahagiaan di matanya, ada sesuatu yang bergejolak di hatinya. Bukan amarah, bukan pula bahagia biasa. Dan akhirnya ia menyerah pada satu kesimpulan. Ia jatuh cinta..

Bukan yang pertama kali ia jatuh cinta pada lelaki itu. Tapi kali ini ia terseret lebih jauh dalam perasaan yang ia yakini cinta. Mungkin perjalanan itulah yang membuat jatuh cintanya kali ini lebih indah, lebih syahdu daripada hari lainnya. Duduk sebangku dengan diiringi alunan simfoni cinta dari penyanyi-penyanyi papan atas di negerinya. Ditambah pembicaraan dan gombalan-gombalan romantis dari bibirnya dan lelaki itu.

Nobody’s going to lo
ve me better, I must stick with you forever
Nobody’s going to take me higher , I must stick with you
You know how to appreciate me , I must stick with you my baby
Nobody ever made me feel this way, I must stick with you….(stickwitu-pussycat dolls)

Detik demi detik, menit demi menit ia nikmati perjalanan itu dalam diam. Ia rangkum luapan bahagianya dalam doa-doa kecil. Ia rekam semua alunan nafas lelaki kecintaannya itu. Ada keengganan bila ia tertinggal spersekian mikrodetik dalam moment tersebut. Mungkin terlihat aneh, tapi itulah cinta. Yah.. ia jatuh cinta. Ia biarkan dirinya dan hatinya terseret jauh dalam pesona lelaki itu .

Hingga akhirnya bus yang ia tumpangi bersama lelaki itu harus berhenti di kotanya. Tempat dimana ia dan lelaki kecintaannya harus terpisah untuk sementara. Saat itu pula rasa cintanya berubah menjadi rindu amat sangat ketika harus mentap punggung kecintaannya yang semakin menjauh…

Dua jam mungkin singkat bagi orang-orang yang seperjalanan bersamanya. Namun dua jam perjalanan ke kotanya telah membawa cinta baru kehatinya , senyuman arumanis di bibirnya, dan juga kubangan rindu yang dalam di hidupnya… -nury-
Bookmark and Share

Selasa, 28 September 2010

Pendidikan atau Pengajaran ?

Pendidikan adalah :
(pengertian pertama) Pendidikan merupakan upaya nyata untuk memfasilitasi individu lain, dalam mencapai kemandirian serta kematangan mentalnya sehingga dapat survive di dalam kompetisi kehidupannya.
(pengertian kedua)Pendidikan adalah pengaruh bimbingan dan arahan dari orang dewasa kepada orang lain, untuk menuju kearah kedewasaan, kemandirian serta kematangan mentalnya.
(pengertian ketiga)Pendidikan merupakan aktivitas untuk melayani orang lain dalam mengeksplorasi segenap potensi dirinya, sehingga terjadi proses perkembangan kemanusiaannya agar mampu berkompetisi di dalam lingkup kehidupannya (Insan Cerdas dan Kompetitif).

Dari beberapa pengertian tersebut bisa kita simpulkan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sedangkan Pengajaran adalah proses belajar atau proses menuntut ilmu. Ada dosen, guru, ustadz yang mengajar atau menyampaikan ilmu kepada murid yang belajar. Hasilnya murid menjadi pandai, dan berilmu pengetahuan. Pengajaran bisa juga didefinisikan sebagai Aktivitas nyata mengajarkan (transfer knowledge) pengetahuan, teknologi dan ketrampilan serta meningkat kecerdasan dan pengendalian emosinya sehingga seseorang mampu survive di dalam kehidupannya.

Jadi jelas perbedaan antara pendidikan dan pengajaran. Pengajaran hanyalah sebatas penyampaian atau mentransfer ilmu pengetahuan pada pihak kedua atau dalam konteks ini adalah siswa. Sedangkan pendidikan tidak hanya dalam ilmu pengetahuan saja melainkan juga penerapan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam kehidupan agar pihak kedua atau siswa lebih bisa mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya serta mencapai kedewasaan.

Agar kita bisa lebih jelas dalam membedakan pendidikan dan pengajaran, kita lihat dua kasus dibawah ini :
1.Di salah satu Sekolah dasar, seorang guru menyampaikan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Fokus pelajaran pada hari itu adalah tentang Hewan Vertebratae. Guru tersebut menyampaikan materi dengan alat bantu gambar-gambar hewan vertebratae. Kemudian siswa dipersilakan bertanya tentang apa yang kurang dipahaminya pada materi tersebut.
2.Seorang siswa Sekolah Dasar duduk di atas meja, kebetulan hal tersebut diketahui oleh gurunya. Kemudian sang guru mengingatkan siswa tersebut agar turun dari meja dan duduk di kursi yang telah disediakan. Karena pada hakekatnya meja bukanlah tempat duduk.

Dari kedua kasus tersebut bisa kita dapatkan bahawa pada kasus pertama merupakan contoh dari pengajaran dan kasus yang kedua adalah contoh dari pendidikan.

Sampai disini, semoga kita bisa membedakan apa itu pengajaran dan apa itu pendidikan. Semoga tidak sampai tertukar maknanya .^___^ (nury)
Bookmark and Share

Minggu, 26 September 2010

Berfilsafat Yukss.. !

Sejak SMA saya sudah ‘anti’ dengan yang namanya filsafat. Jangankan berfilsafat, mendengar kata-kata filsafat-pun saya sudah pusing duluan. Entah kenapa, menurut saya filsafat itu hanya diperuntukkan orang-orang yang memiliki intelegensi di atas rata-rata. Dan kebanyakan (dari yang saya lihat dan perhatikan) para filusuf itu orangnya aneh-aneh, gak lazim, dan arah pembicaraannya selalu berputar-putar, gak langsung pada intinya. Ditambah lagi, di awal-awal kuliah saya mendapat mata kuliah filsafat ilmu yang bukannya membuat saya tertarik malah membuat saya semakin bingung dengan hal-hal yang berbau filsafat. Sumpah, tiap kali dosen mengajar tentang Filsafat ilmu yang ada di otak saya hanyalah ingin sekali pulang dan tidur di kost, malas berpikir yang rumit-rumit. Alhasil, akhir semester pengetahuan saya tentang filsafat ‘nol putung’ nggak dapet apa-apa. Dan kelulusan mata kuliah filsafat ilmu saya perlu dipertanyakan kembali *hehehe…

Namun, pendapat saya tentang filsafat berubah 180 derajat semenjak saya membaca buku Fahd Djibran yang berjudul Cat In My Eyes, Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa. Buku ini merupakan kumpulan sketsa, prosa, dan cerita seperti puzzle yang mengajak pembacanya untuk mencari makna dari sejumlah pertanyaan yang mungkin terdengar klise namun sangat penting seperti ; apa itu hidup ? apa itu cinta? apa itu Tuhan ? Pada awalnya saya tak menganggap buku ini berbau filsafat atau sebagainya. Yang saya tahu buku ini sangat luar biasa karena berani meninjau ulang kelaziman. Hingga pada suatu hari (sebenarnya saya benci menggunakan kata-kata ini), saya bercerita tentang isi buku tersebut pada salah satu teman. Ditengah-tengah antusiasme bercerita, teman saya itu menceletuk “aduh Riz, gak kuat diriku kalau kamu ajak berfilsafat ria”. Sontak saya terkejut, ternyata yang seperti tadi itu bisa dikatakan berfilsafat toh.

Dari situlah saya mulai rajin menggali tentang makna filsafat. Terkadang saat waktu senggang saya searching di salah satu search engine tentang apa itu filsafat, bagaimana berfilsafat yang baik, siapa-siapa saja filusuf terkenal dunia, mengapa harus berfilsafat dan lain sebagainya. Beberapa buku-pun sudah menjadi objek pencariaan saya tentang filsafat. Mulai dari buku kuliah semester awal Filsafat Ilmu Made Pramono, hingga buku Kunto Wibisono Karakteristik Berpikir Filsafat yang saya pinjam dari perpustakaan daerah saya (maklum saya tidak memiliki budget khusus untuk buku tersebut) sudah khatam demi memuaskan rasa penasaran saya pada makhluk bernama ‘filsafat’ ini..

Garis besar dari pencarian saya tersebut, bahwa
Filsafat merupakan pencarian sikap kritis terhadap sesuatu hal dengan memahami soal sampai seakar-akarnya. Berfilsafat itu juga berarti perenungan yang mendalam terhadap sesuatu, misalnya terhadap lingkungan, kehidupan masyarakat, relasi dengan sesama, dll. Dengan kata lain, filsafat adalah proses upaya berpikir kritis manusia terhadap suatu fenomena kehidupan sehari-hari.

(diambil dari buku Realitas dan Objektivitas ; Refleksi kritis atas cara kerja ilmiah, ditulis oleh Dr. Irmayanti M. Budianto, Wedatama Widya Sastra 2005)

Secara historis, filsafat menempati poisisi penting bagi kemunculan ilmu-ilmu khusus. Oleh karena itu filsafat . Istilah filsafat bisa dilacak etimologinya dari istilah Yunani philoshophia yang terbentuk dari dua akar kataya, yakni : philien (mencintai) dan sophos (bijaksana). Sehingga dari situ bisa kita maknai bahwa filsafat merupakan kegiatan mencari suatu kebenaran melalui proses berpikir manusia. Kemudian, ilmu filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji seluruh fenomena yang dihadapi manusia secara kritis refleksif, integral, radikal, logis, sistematis, dan universal.

Adapun problem-problem filsafat adalah ; (1) Ontologi ; mengkaji keberadaan sesuatu, membahas tentang “ADA” yang dapat dipahami baik secara konkret, factual, transdental ataupun metafisis. (2) Epistemologi ; membahas pengetahuan yang akan dimiliki manusia apabila manusia itu membutuhkannya. (3) Aksiologi ; membahas kaidah norma dan nilai yang ada pada manusia.

Masih membingungkan memang, akan tetapi filsafat bukanlah sesuatu yang aneh yang bisa membuat pelakunya menjadi ‘aneh’. Beberapa terlihat seperti itu karena mereka berbeda, berpikir lebih dalam dari pada kita sehingga pembicaraannya terkadang seperti gak nyambung. Tanpa kita sadari, sebenarnya kita juga sering berfilsafat dalam hidup ini. Cara kita memandang dan berfikir pada masalah yang kita hadapi itu-pun termasuk dalam kategori berfilsafat, meskipun terkadang kita tidak melakukannya secara mendalam.

Sesekali waktu kita juga perlu berfikir secara mendalam pada hidup kita. Kita perlu sesekali merenungi sejauh mana hidup kita, apa, mengapa, bagaimana, misal ; Sudahkah saya bermanfaat untuk hidup saya, orangtua saya, keluarga, masyarakat, bangsa dan agama ?

Akan tetapi, janganlah terlalu jauh mempertanyakan sesuatu, karena bisa berbahaya. Seperti yang saya katakan, yang namanya “TERLALU” itu bermakna negatif. Banyak saya lihat kasus orang-orang yang terlalu berfilsafat dan mempertanyakan hidupnya, menjadi seorang yang gila bahkan menjadi tak ber-Tuhan. Na’udzubillah.

Belajar filsafat pada akhirnya saya pahami secara lebih baik (ini menurut saya), sebagai suatu cara untuk memperoleh pemahaman baru mengenai realitas (yang ada), menemukan wawasan-wawasan baru, memperoleh pencerahan serta kebenaran baru. Secara ringkas belajar berfilsafat adalah untuk memperoleh pemahaman atau memahami dunia dan diri kita sendiri. Dengan demikian, kita harus siap untuk mengubah atau mengganti kepercayaan-kepercayaan atau asumsi-asumsi kita ketika kita memperoleh suatu pemahaman baru yang lebih baik. Kelapangan hati untuk menerima hal yang berbeda-beda juga sangat diperlukan dalam berfilsafat. Kita juga harus siap untuk menerima bahwa tidak setiap pertanyaan memiliki jawaban dalam filsafat. Namun bukan berarti hal tersebut bisa dijadikan alasan untuk kemudian kita berdiam diri dan tak mencari jawaban dari pertanyaan yang ada. Pada hakikatnya kita berfilsafat seiring dengan helaan nafas kita.

Jadi teruslah bertanya (berfilsafat), sebab seperti kata Socrates, “hidup yang tidak pernah dipertanyakan, sesungguhnya adalah hidup yang tak pernah layak untuk diteruskan”. Sampai disini, hanya ada satu pertanyaan yang mungkin : Bertanya atau mati ?! –nury dalam sebuah perenungan

Senin, 23 Agustus 2010

Aku Dan Jilbab-ku


Ini sudah minggu kedua aku mengenakan jilbabku. Keputusan yang sebenarnya kuambil tidak terlalu tergesah-gesah, karena sebelumnya sudah jauh-jauh hari kupikirkan tentang mengenakan jilbab. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku mengenakan jilbab.

Sekedar menengok sosok diriku lima tahun lalu *memutar ingatan, saat aku pertama kali memutuskan untuk masuk kesebuah Sekolah Menengah Atas yang berbasiskan agama, aku diwajibkan mengenakan jilbab karena begitulah peraturannya. Tidak mengenakan jilbab, haram hukumnya untuk sekolah di sana. Bahkan kabar terakhir lingkungan sekolahku kini menjadi lingkungan wajib berjilbab, tak perduli siswa atau bukan wanita harus mengenakan jilbab *minimal menjaga kesopanan berpakaian.

Selama berada di sekolah tersebut aku mulai membiasakan diri untuk mengenakan jilbab, meski terkadang tiap hang out bersama teman-teman, jilbab untuk sementara kutinggal di rumah. Begitulah aku, mengenakan jilbab dikarenakan peraturan yang mewajibkan.

Lulus SMA, mulai terjadi kegamangan tentang mengenakan jilbabku. Aku yang saat itu telah terdaftar di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya, dihadapkan pada dua pilihan. Terus mengenakan jilbab saat Kuliah atau menanggalkannya. Sebenarnya itu pilihan yang mudah, mengingat aku yang sejak awal mengenakan jilbab hanya karena peraturan sekolah, aku bisa saja memilih menanggalkan jilbabku, toh mengenakan atau tidak sama saja tidak mengenakan jilbab bagiku, Karena aktivitas selain yang berhubungan dengan sekolah aku tak mengenakan jilbab. Selain itu ayahku memberiku kebebasan untuk memilih dan Ibuku memiliki pemikiran yang sama denganku.

Namun, Keinginanku untuk menanggalkan jilbab harus terbentur dengan pandangan masyarakat dan intervensi dari si pacar. Yang ada di kepalaku saat itu adalah bagaimana pandangan tetangga, guru-guru dan teman-temanku bila aku menanggalkan jilbab ? Pasti mereka akan kecewa. Trus pasti aku bakal dapat kecaman keras dari si pacar yang kebetulan keluarganya memiliki fondasi agama yang kuat. Akhirnya, berjilbab adalah harga mati untukku saat itu. Lagi-lagi aku mengenakan jilbab *hanya saat kuliah saja hehe*, bukan karena ingin hatiku tapi untuk orang lain.

Satu setengah tahun yang lalu, aku mengambil sebuah keputusan yang tidak biasa, keputusan yang bias menjadi skak mat buat pencitraanku. Aku memilih melepas jilbabku. Hal itu kulakukan semata-mata karena aku lelah mengikuti kata orang lain, karena aku lelah menjadi palsu. Bersembunyi di balik jilbabku, dan bilang aku orang baik. Pemikiranku tentang jilbab saat itu berbalik 180 derajat. Mengenakan jilbab bagiku bukanlah sekedar memasang sehelai kain sebagai punutup kepala. Jilbab lebih daripada itu. Jilbab itu seperti sebuah perinsip tentang hidup, tentang pencitraan diri. Disaat kau mengenakan jilbab disaat itupula-lah bukan hanya tubuhmu yang tertutupi dan jauh dari hal buruk, begitu juga perkataanmu, perbuatanmu dan bahkan hatimu. 

Jilbab terlalu indah bila harus kau kotori dengan perbuatan tercela. Dan aku belum memiliki kesiapan untuk benar-benar melakukannya. Aku tak mau menjadi bahan gunjingan orang-orang seperti yang bisanya bilang seperti ini “krudungan kok pencilakan, gak isin karo krudunge” (pake jilbab kok banyak tingkah, gak malu sama jilbabnya). Nah.. daripada aku jadi bahan omongan yang menjadikan sumber dosa, mending aku menanggalkan jilbabku hingga hatiku benar-benar siap mengenakannya meski itu mempertaruhkan harga diriku.

Akan tetapi dua minggu yang lalu, aku diperingatkan lewat mimpi dan ingatanku tentang jilbab. Malam itu aku bermimpi tak tahu darimana awalnya *bukankah mimpi emang seprti itu*, seorang anak menarik rambutku yang selama ini kujaga keindahannya *seperti iklan shampoo hehe. Lama-kelamaaan tarikan anak tersebut semkain kuat, dan sakit mulai menjalar di ubun-ubunku. Aku berteriak sekencang mungkin, meronta-ronta minta di lepaskan, namun anak tersebut malah ketawa-ketawa gak jelas mirip film horror. Dari situ aku mengambil kesimpulan sendiri, mungkin aku di peringatkan untuk gak mengumbar rambutku kemana-mana *pengambilan kesimpulan yang seenaknya :-P*

Kemudian tiba-tiba aku diingatkan pada kenangan berapa belas tahun yang lalu, aku diingatkan pada sosok rizka kecil yang merengek minta di pondokkan, rizka kecil yang suka bermain dengan jilbab ibunya. Dari situlah aku disadarkan, pilihan mengenakan jilbabku sudah dari awal aku yang membuat dan pilihan itu sudah kuambil sejak dari dulu. hanya mungkin waktu pelaksanaannya sajalah yang harus tertunda.

Dan inilah aku yang sekarang, setelah menjalani istikharahku dan tidak mengindahkan intervensi dari luar, aku memasang kembali jilbabku yang sempat kutinggalkan. Keputusan mengenakan jilbab ini tidak seperti dahulu. Bukan karena si pacar, keluarta pihak instansi atau masyarakat manapun. Tidak hanya untuk saat tertentu saja yang kemudian di waktu lain aku bisa melenggang tanpa mengenakan jilbab. Keputusanku mengenakan jilbab kali ini murni kata hatiku, tiba-tiba saja aku diberi kesiapan. Meski aku tahu akan ada orang yang bilang aku plin-plan atau tak punya prinsip, aku tak peduli. Mengenakan jilbab kini menjadi urusanku dan Raja Semesta saja. Biar aku dan Dia saja yang mengetahui. Bukankah dari awal kita sudah diberi kebebasan memilih ? Dan kini aku bebas memilih jalanku dan prinsipku.

Mungkin aku harus tetap belajar, belajar dan belajar agar bisa beristiqomah dengan jilbabku ini. Bukan tidak mungkin akan ada halangan dan rintangan selama perjalananku ini. Mungkin dari luar maupun diriku. Namun aku berjanji pada diriku sendiri dan Raja Semesta, keputusan ini bukan sementara tapi selamanya. Semoga.

Bagaimana cerita kalian dengan jilbab kalian ??? –nury-
Bookmark and Share