BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Selasa, 12 Januari 2010

Souvenir Keberuntungan Mancanegara



    Ada temen ato sodara yang melancong ke luar negeri ? asik ... kita bisa kecipratan oleh-oleh. pasti seneng banget dapat souvenir khas dari berbegai negara dan daerah. tapi tau gak sih kalo di balik souvenir-souvenir tersebut terselip pesan keberuntungan, nah mari kita telusuri simbol di balik pernak-pernik mancanegara berikut ini.

Maneki neko : Kucing ramah dari Jepang 

    Maneki Neko ( kucing mengundang) adalah pajangan berbentuk kucing dari Jepang yang dibuat dari porselen atau keramik. Sebelah kaki depan (tangan) pajangan ini diangkat seperti sedang memanggil orang.
    Pajangan ini dipercaya membawa keberuntungan kepada pemiliknya dan biasa dipajang di toko, restoran dan tempat-tempat usaha. Maneki neko yang mengangkat kaki depan sebelah kanan dipercaya dapat mendatangkan uang, sementara maneki neko yang mengangkat kaki depan sebelah kiri dipercaya mendatangkan pembeli. Maneki neko umumnya tidak dibuat dengan kedua belah kaki depan diangkat karena tidak ingin dikatakan sudah menyerah angkat tangan. Model pajangan ini biasanya adalah kucing belang tiga, kucing Japanese Bobtail dengan buntut pendek seperti buntut kelinci. Maneki neko juga dibuat dalam warna-warna lain seperti kuning emas atau hitam. Kucing yang menjadi model maneki neko konon sedang mencuci muka dengan menggunakan sebelah kaki depan.
    Maneki neko merupakan contoh klasik untuk kitsch yang dapat dibuat dalam berbagai warna, aneka model, dan ragam hiasan. Pajangan ini juga dibuat sebagai bentuk berbagai macam keperluan sehari-hari, seperti: gantungan kunci, celengan, hingga pengharum ruangan. Bahan-bahan lain yang tidak umum untuk membuat maneko neko adalah plastik atau kain perca. Dalam bahasa Inggris, maneki neko disebut fortune cat (kucing keberuntungan) atau beckoning cat (kucing memanggil).

Matryoskha : Dari Rusia Bentuk Kesuburan
    BONEKA kayu warna-warni, lengkap dengan glitter dan polesan pernis yang membuatnya menjadi  berkilau, menjadi perhatian utama para wisatawan yang berkunjung ke sana. Meski berbeda-beda, ribuan boneka itu mempunyai ciri yang sama. Bola mata yang hitam dan lebar, dengan pipi merona merah dihiasi senyum mengembang. Wajah-wajah itu dipadukan dengan lukisan pakaian khas Rusia, berikut serumpun kembang, atau sekeranjang buah dan roti.

    Sekalipun sulit  menggolongkan souvenir ini sebagai barang murah, tapi hiasan yang dijual mulai 500 rubel hingga 2000 atau 3000 rubel itu, tetap menjadi souvenir yang laris di sini. Kalau dikonversi dalam rupiah, 500 rubel kira-kira seharga Rp 250 ribu. Bayangkan jika pilihan jatuh pada boneka seharga 3000 rubel, artinya harga yang harus dibayar mencapai Rp 1,5 juta.  Jumlah yang tak murah untuk ukuran Indonesia.

    Bahkan katanya, harga itu bisa lebih mahal kalau dibeli di toko souvenir di Moskwa, Ibu Kota Rusia. "Kalau di Moskwa, harga barang-barang di sini, termasuk Matryoshka, bisa tiga sampai empat kali lipat lebih mahal. Segala hal memang lebih mahal di Moskwa," kata Alexander Tjan, salah satu penduduk Moskwa berdarah China.

    Matryoshka atau yang juga dikenal dengan nama Babushka telah menjadi legenda Rusia. Boneka kayu yang dapat diisi dengan boneka-boneka yang lebih kecil, dikenal pula dengan nama Matroshka.

    Selama berpuluh-puluh tahun, Matryoshka telah menjadi  cinderamata paling populer dari Rusia, di samping samovar, alias vodka. Sekalipun tak ada yang bisa membuktikan dari mana dan kapan pertama kali ikon Rusia ini diciptakan, namun konon Matryoshka merupakan perkawinan budaya Rusia dengan mitologi Jepang.

    Selama berabad-abad lampau, seniman Rusia menjadikan pahatan dan lukisan di permukaan kayu berbentuk telur sebagai ekspresi seni mereka. Karya seni inilah disebut dengan telur paskah Rusia.  Bagian tengah telur-telur kayu itu pun  berlubang dan dapat diisi dengan telur yang ukurannya lebih kecil. 

    Sementara di Jepang dikenal boneka yang menggambarkan kegembiraan dan kebijaksanaan dari dewa Fukurokuju --satu dari tujuh dewa di negeri matahari terbit. Di abad 19, seorang pelukis Rusia bernama Sergey Malyutin mendapatkan kedua kreasi seni itu. Sebuah inspirasi kemudian melintas di pikirannya. Ia lalu menggambarkan sosok sebuah boneka kayu dan meminta pemahat bernama Vasiliy Zvyozdotchkin untuk membuatkannya.

    Setelah itu, Malyutin menggambari tubuh boneka tadi dengan pakaian tradisional wanita Rusia, lengkap berhiaskan kerudung. Dalam gambar itu terlihat si wanita sedang mendekap seekor ayam jantan berwarna hitam.  Sementara tujuh 'saudara' dari wanita itu kemudian di simpan di dalam boneka pertama. Mulai dari laki-laki, perempuan, hingga yang terakhir bersosok bayi.

    Boneka mainan yang kemudian menjadi sangat digemari oleh anak-anak di Rusia itu pun menyimpan pesan mendalam tentang kuatnya kasih sayang seorang ibu dan semangat kekeluargaan. Sebuah cara penyampaian yang sangat sederhana untuk pesan yang begitu mendalam.

    Nama Matryoshka pun tidak dipilih dengan sembarangan. Konon, kala boneka itu diciptakan, Matryona adalah sosok wanita cantik yang sangat populer di negeri ini. Nama itu juga menjadi nama umum wanita-wanita Rusia, mungkin seperti nama Dewi di Indonesia. Serapan dari istilah latin 'mater' yang berarti ibu, makin memperdalam makna Matryoshka.

    Kreasi ini pertama kali diproduksi secara massal di Moskwa, dan dijual dengan harga yang cukup mahal. Namun seusai Paris Fair tahun 1900  yang merupakan hajatan kelas dunia di jaman itu, banyak orang mulai mengenal dan ingin mengembangkan seni ini. Dalam festival tadi, seorang wanita Rusia bernama Mamontova membawa dan memperkenalkan Matryoshka. Ia kemudian mendapatkan penghargaan medali perunggu atas usahanya itu.

    Produksi massal pun lalu berpindah ke Sergiyev Posad, sebuah kota kecil di pinggiran Moskwa. Hanya butuh waktu beberapa tahun, kegiatan pembuatan kerajinan tangan ini kemudian menjadi mata pencarian bagi hampir seluruh penduduk Sergiyev Posad. Hebatnya, meski telah berkembang luas dengan permintaan pasar yang melimpah, hingga hari ini Matryoshka tetap menjadi boneka kayu buatan tangan.

    Biasanya, boneka terkecil yang ukurannya sedikit lebih besar dari ibu jari adalah yang pertama dibuat. Kemudian dilanjutkan dengan boneka yang lebih besar. Begitu selanjutnya, sampai satu set Matryoshka rampung. Satu set biasanya berjumlah lima sampai tujuh boneka. Tapi rekor keluarga Matryoshka terbesar yang pernah di buat di Rusia adalah 72 buah.

Fuwa : Boneka Keberuntungan Olimpiade Beijing
    Fuwa (福娃 Fúwá, Indo:Boneka Keberuntungan, Ing:Friendlies) adalah maskot dari Olimpiade Musim Panas 2008. Dalam Bahasa Inggris, "Friendlies" (jamak dari "friendly") berarti bersahabat atau ramah. Maskot ini diumumkan oleh Perkumpulan Nasional Ilmu Kesusasteraan Klasik Tiongkok pada 11 November, 2005 pada sebuah acara memperingati hari keseribu sebelum pembukaan Olimpiade.
Fuwa terdiri atas 5 anggota: Beibei, Jingjing, Huanhuan, Yingying, dan Nini. Setiap dari 5 nama itu didisain agar terlihat seperti nama anak kecil, namun bila ditempatkan bersama, suaranya mendekati frasa "北京欢迎你 Běijīng huānyíng nǐ" yang berarti "Beijing menyambutmu". Setiap figur dari Fuwa mewakili lima Cincin Olimpiade.


    Beibei, si boneka ikan merupakan perlambangan kemkmuran. Pada budaya asli Tiongkok, ikan melambangkan kemakmuran, seperti karakter untuk ikan (魚 / 鱼) bunyinya sama dengan karakter untuk kelebihan/surplus (餘 / 余). "Gurame melompat diatas jembatan naga" adalah sebuah alegori tradisional untuk mengikuti impiannya dan mencapai mereka. Pola dari tutup kepala Beibei berasal dari artefak yang digali di Banpo, situs desa Neolitik Kebudayaan Yangshao.




    Sementara si Jingjing, si panda adalah simbol kebahagiaan dan keharmonisan antyara alam dan manusia. Sebagai spesies yang terancam punah panda adalah simbol nasional Tiongkok dan an internasional tentang lingkungan. Asal hutan Jingjing juga melambangkan keharmonisan dalam hidup berdampingan antara manusia dan alam.



    Boneka HuanHuan berwarna merah menggambarkan obor api dari gua mugao, merefleksikan keinginan yang besar. Huanhuan melambangkan nafsu olahraga, jiwa olimpiade dari "citius, altius, fortius", dan nafsu olimpiade Beijing. Tutup kepala Huanhuan berasal dari model api di Gua Mogao, gua Buddha terbaik di Tiongkok

   




Lain lagi dengan si kuning Yingying yang terinspirasi dari spesies langka Antelope tibet yang cekatan dan di  yakini perlambangan kesehatan. Antilop Tibet adalah spesies terancam punah dari Dataran Tinggi Tibet yang terkenal atas kecepatannya. Tutup kepala Yingying memasukan elemen kostum etnik Tibet dan Xinjiang.


    Yang terakhir dalah si burunf layang-layang Nini, yang dipercaya melambangkan keberuntungan.  Burung layang-layang adalah utusan musim semi dan kebahagiaan dalam budaya Tiongkok, dan simbol keberuntungan. Karakter Tionghoa untuk burung layang-layang(燕) juga dipakai di Yanjing (燕京), nama tua untuk Beijing; maka, Burung layang-layang menyiggung kota Beijing. Tutup kepala Nini memakai model layangan Shayan Beijing, yang berwarna-warni dengan bentuk salib yang didisain mengikuti burung layang-layang.
Bookmark and Share

0 komentar: